untitled
HOME
ARTIKEL:
Alternatif Mencari Lowongan Kerja
Memburu Lowongan Kerja
Fokus Wawancara Penerimaan Pegawai
Akses lowongan kerja TI dimana dan
kapan pun
Indonesia Masih Kekurangan 25.000
Tenaga Kerja TI
Bursa Lowongan Kerja Diserbu Pelamar
Serbuan Pencari Kerja di Indonesia
Bursa Kerja dan Pengangguran
Kualitas Pencari Kerja Masih Diragukan
Ketika Bursa Lowongan Kerja ke Daerah
Ribuan Pencari Kerja Berebut Lowongan
Kerja
30.000 Pekerja Terdidik Menganggur
Tergolong Tinggi, Pengangguran di
Surabaya
Antara Kualitas Pencari Kerja dan
Pasar Sering Tidak Klop
Sebanyak 11.020 Sarjana di Palembang
Menganggur
Pengangguran Tambah 1 Juta
Maksimalkan Fungsi Depnakertrans
Bersama Arus Balik Lebaran, Batam
Diserbu Pekerja Migran
Ramai-ramai Kuliah, Ramai-ramai Cari
Kerja
|
|
Serbuan Pencari Kerja di Indonesia
Tidak Tersambungnya Pendidikan dan Kerja
Jakarta, Kompas - Ribuan pemburu kerja yang
rela berdesakan-desakan hingga pingsan dalam Pameran Bursa Kerja Career 2003 di
Hotel Kartika Candra, 15-16 Juli, menunjukkan tidak tersambungnya dunia
pendidikan dengan kepentingan dunia kerja. Para pemburu kerja dengan berbagai
latar belakang pendidikan terpaksa berebut lowongan kerja yang jumlahnya minim.
Di sisi lain, situasi ini juga menggambarkan pasar saat ini dipenuhi tenaga
kerja yang tidak memiliki kualifikasi khusus sehingga lowongan apa pun diserbu.
"Ini fenomena lama yang muncul di permukaan. Tekanan tenaga kerja yang luar
biasa hingga peluang dan harapan sekecil apa pun harus diambil oleh mereka. Ini
problem hubungan antara pendidikan dan dunia kerja," kata pengamat sosial dari
Universitas Airlangga, Hotman Siahaan, yang dihubungi di Surabaya, Rabu (16/7).
Hotman mengatakan, fenomena itu juga menunjukkan adanya permasalahan dalam
sistem pendidikan. Output dunia pendidikan tidak bisa memenuhi kualifikasi dunia
kerja. Jual beli gelar dan komersialisasi pendidikan menjadikan pasar tenaga
kerja tidak diisi oleh orang yang berkualitas.
Pada hari kedua pameran, ribuan para pemburu kerja tetap memadati pameran itu.
Berbeda dengan hari pertama yang sempat kisruh, hari kedua para pemburu kerja
mau mengantre secara tertib. Meski demikian, antrean tetap panjang hingga
pelataran Hotel Kartika Candra dipenuhi mereka.
"Dari pameran ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi antara perusahaan dan
para pelamar," kata Donnie Iriawan dari penyelenggara pameran.
Dahaga
Direktur PT Mitra Management, sebuah perusahaan konsultan pengembangan sumber
daya manusia, Nunuk Adiarni mengatakan, fenomena ini menunjukkan kebutuhan
lapangan kerja yang sangat luas. Pasokan tenaga kerja dari berbagai pintu
pendidikan begitu kuat menggelontor pasar, sedangkan peluangnya kecil.
"Mereka orang yang dahaga, memiliki pengharapan yang kuat untuk mendapat
pekerjaan. Begitu ada peluang kecil, langsung menyerbu. Dari fenomena ini juga
menunjukkan mereka adalah mayoritas tenaga kerja yang memiliki talenta yang
minim. Mereka yang menggelontori pasar tenaga kerja yang tidak memiliki
kemampuan khusus," kata Nunuk.
Nunuk sepakat dengan patokan pertambahan pertumbuhan satu persen akan menyerap
tenaga kerja 400.000 orang. Dengan pertumbuhan saat ini, masih sulit terjadi
lowongan kerja yang besar. Pameran seperti itu memperlihatkan dengan jelas bahwa
perburuan tenaga kerja selama ini sebenarnya tengah terjadi.
Akan tetapi, di kalangan konsultan pengembangan sumber daya manusia sebenarnya
sudah sering mendapatkan serbuan seperti itu. "Misalnya kalau kita pasang iklan
lowongan, ribuan lamaran akan masuk. Mereka asal kirim meski tak sesuai
kualifikasi. Mereka tetap nekat mengirim lamaran. Lamaran seperti ini dalam
hitungan tidak sampai satu menit sudah masuk kotak sampah," katanya.
Nunuk mengatakan, dunia kerja akan tertarik terhadap pelamar yang memiliki
talenta khusus. Mereka akan melirik pertama kali dari daftar riwayat hidup yang
dikirimkan, yang merupakan gambaran dari sejarah pelamar. Selanjutnya baru akan
ditentukan lewat tes.
Ledakan sosial
Hotman mengatakan, fenomena ini telah lama terjadi dan sangat klasik. Hal itu
terlihat dari ratusan pembawa map yang antre di pabrik-pabrik. "Di mana-mana
seperti itu, tiap hari mulai dari map lusuh sampai map yang berbagai macam masuk
ke perusahaan. Ini angka pengangguran yang sangat tinggi yang mencoba bertahan
hidup," katanya.
Dalam angkatan kerja yang bergelar sarjana dan mendapat pendidikan yang
setengah-setengah itu akan muncul potensi eksploitasi ledakan yang luar biasa.
"Mereka memiliki ekspektasi yang sangat tinggi, tetapi performance-nya rendah.
Ini sudah cukup lama dan menjadi bukti tingkat pengangguran yang tinggi.
Sementara lapangan kerja tidak bertambah," kata Hotman.
Fenomena ini merupakan gabungan dari minimnya lapangan pekerjaan, baik di kota
maupun di desa. "Daya tampung desa makin kecil. Demikian pula kota-kota
penyangga juga sudah tidak bisa menampung. Tumpuan mereka akhirnya terjadi di
kota," kata Hotman.
Jadi, saat ini ada perubahan, yaitu sejumlah perusahaan mulai kembali membuka
lowongan setelah krisis ekonomi yang banyak melakukan pemutusan hubungan kerja
(PHK). "Akan tetapi, daya tampung perusahaan yang membuka lowongan itu tidak
besar sehingga tidak bisa menerima semua pencari kerja," katanya. (B16/MAR)
|