untitled
HOME
ARTIKEL:
Alternatif Mencari Lowongan Kerja
Memburu Lowongan Kerja
Fokus Wawancara Penerimaan Pegawai
Akses lowongan kerja TI dimana dan
kapan pun
Indonesia Masih Kekurangan 25.000
Tenaga Kerja TI
Bursa Lowongan Kerja Diserbu Pelamar
Serbuan Pencari Kerja di Indonesia
Bursa Kerja dan Pengangguran
Kualitas Pencari Kerja Masih Diragukan
Ketika Bursa Lowongan Kerja ke Daerah
Ribuan Pencari Kerja Berebut Lowongan
Kerja
30.000 Pekerja Terdidik Menganggur
Tergolong Tinggi, Pengangguran di
Surabaya
Antara Kualitas Pencari Kerja dan
Pasar Sering Tidak Klop
Sebanyak 11.020 Sarjana di Palembang
Menganggur
Pengangguran Tambah 1 Juta
Maksimalkan Fungsi Depnakertrans
Bersama Arus Balik Lebaran, Batam
Diserbu Pekerja Migran
Ramai-ramai Kuliah, Ramai-ramai Cari
Kerja
|
|
Ribuan Pencari Kerja Berebut Lowongan
Kerja
Jakarta, Kompas - Lebih dari 10.000 pencari
kerja, Selasa (15/7) sejak pukul 09.00, rela berdesakan untuk berebut 3.000
lowongan pekerjaan pada hari pertama Pameran Bursa Kerja Career 2003 di Hotel
Kartika Chandra, Jakarta.
Beberapa orang di antaranya bahkan jatuh pingsan, tak mampu bertahan di tengah
desakan massa yang ingin menembus gerbang pameran. Arus pengunjung pameran ini
juga menyebabkan arus lalu lintas di sepanjang Jalan Gatot Soebroto maupun tol
dan wilayah sekitarnya, seperti Jalan Rasuna Said, Thamrin, MT Haryono,
Sudirman, S Parman, dan Perempatan Kuningan-Mampang macet total kemarin petang.
Warga yang memilih jalan alternatif, yakni jalan tol, harus menerima nasib
serupa, macet. Kemacetan di jalan tol menyebabkan warga yang masuk dari arah
Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Bandara Soekarno-Hatta terhambat perjalanannya.
Sekitar pukul 10.00, suasana di sekitar hotel tersebut semakin memanas karena
pencari kerja makin membeludak. Arus manusia yang berburu peluang kerja ini
terus membanjir meski mereka harus membayar Rp 15.000 per orang sebagai biaya
tiket masuk pameran.
Panitia hanya mengizinkan pencari kerja masuk ke ruangan satu per satu,
sementara pencari kerja yang datang terus bertambah dan bertumpuk di satu pintu
masuk.
Akibatnya, aksi dorong dan saling berebutan tidak bisa dihindari karena ribuan
calon pekerja tidak sabar menunggu giliran masuk ke ruang pameran, yang juga
sudah disesaki sekitar 5.000 pencari kerja. Suasana semakin ricuh karena petugas
keamanan yang berjaga di depan pintu masuk meminta para pencari kerja tidak
memaksakan diri masuk ruangan. Sebab, daya tampung ruangan terbatas.
Meskipun tidak diperbolehkan masuk, dan terpaksa tidak makan siang, mereka tetap
rela antre berjam-jam di tengah lautan manusia di depan pintu utama menuju ruang
pameran. Desak-desakan dalam antrean panjang terus berlangsung hingga sekitar
pukul 15.00.
Mereka berebut berbagai jenis pekerjaan, mulai dari marketing executive hingga
direktur operasional. Para pemburu pekerjaan ini berasal mulai dari lulusan
sekolah lanjutan tingkat atas hingga mereka yang bergelar doktor. Tawaran
gajinya ada yang hingga Rp 50 juta per bulan. Sejumlah perusahaan yang
menawarkan lowongan kerja antara lain Bank Danamon, Carrefour, Bank Permata, dan
Hoka Hoka Bento.
Petugas keamanan sempat menyuruh para pencari kerja yang tidak dapat masuk untuk
pulang ke rumah saja dan kembali keesokan harinya. Anjuran tersebut dibalas
dengan ejekan dan penolakan dari para pencari kerja yang terdengar riuh rendah.
Beberapa wanita pencari kerja dengan pakaian rapi dan bermandikan keringat
memutuskan keluar dari kerumunan dan meninggalkan antrean.
"Waduh, tidak tahan Mbak, panas dan susah bernapas. Mending saya titip saja deh,
atau balik lagi ke sini besok," kata Lia, yang bekerja di perusahaan swasta.
Di luar perkiraan
Pameran yang akan berlangsung dua hari tersebut dibuka Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Jacob Nuwa Wea dan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul
Muarif, Selasa.
Menurut Chief Operation Officer (COO) Asia Expo Donnie Iriawan, yang memicu
bertumpuknya para pencari kerja di pintu masuk adalah sistem keluar masuk pada
satu pintu. "Ini sistem yang salah. Hari kedua, sistem lalu lintas pengunjung
pameran akan dipisah antara pintu masuk dan keluar," kata Donnie. Total pencari
kerja yang akhirnya bisa masuk ke pameran itu, lanjut Donnie, hanya 7.000 orang.
Selain masalah pintu masuk dan keluar, kata Donnie lagi, kapasitas ruangan yang
tidak memadai menyebabkan pengaturan pergerakan pencari kerja bursa juga semakin
rumit.
Panitia akhirnya menyarankan, pencari kerja mengisi formulir di luar arena dan
formulir bisa dikembalikan setelah pameran usai. Langkah ini dilakukan agar
pencari kerja yang masih berdesakan di luar lokasi pameran bisa mendapat
kesempatan yang sama.
Menurut Donnie, membeludaknya pencari kerja tahun ini sama sekali tidak
diperkirakan oleh panitia. "Waktu tahun 2001, kami mengadakan bursa kerja di
Jakarta Hilton Convention Centre, tapi yang datang sedikit sekali. Makanya kami
memutuskan untuk mengadakan di Kartika Chandra," katanya.
Pada bursa kerja kali ini, sebanyak 40 perusahaan menawarkan berbagai jabatan
untuk mengisi 3.000 lowongan pekerjaan di dalam dan luar negeri, baik secara
langsung maupun lewat Internet pada 15-16 Juli 2003.
Membeludaknya calon pekerja yang berminat mencari lowongan di pameran itu sudah
terlihat sejak pagi. Sebelum pameran dibuka, pencari kerja sudah berdesakan di
pintu masuk lokasi pameran. Panitia pun tampak kebingungan melihat calon pekerja
yang sudah berdesakan di luar ruangan.
Apalagi rombongan pencari kerja sudah meluber ke halaman hotel dan hampir semua
pintu masuk ke gedung hotel diblokade pencari kerja. Padatnya halaman parkir di
kompleks hotel itu memaksa pengunjung pameran memarkir kendaraannya meluber di
luar hotel .
"Lowongan kerja jangan dibuka di hotel, di Senayan sana lho biar tidak macet.
Kalau begini semua orang bisa marah, dan hotel ini bisa jadi sasaran kemarahan
massa," kata seorang petugas polisi. "Edan beneran, jarak Slipi ke Gatot
Soebroto yang biasa saya tempuh 15 menit kini menjadi 50 menit. Mesti dicarikan
jalan untuk mengatur masalah ini. Bursa kerja sebaiknya di kawasan lebih luas
dan terbuka," kata M Faizal, warga Joglo yang bekerja di kawasan Slipi.
Beberapa pencari kerja menyatakan, daya tarik bursa kerja ini adalah lowongan
yang ditawarkan berupa jabatan penting di beberapa perusahaan besar dengan gaji
yang cukup menjanjikan. "Saya ingin coba saja, siapa tahu diterima jadi
sekretaris presiden direktur di sebuah perusahaan multinasional," kata Nia (27),
karyawan perusahaan sepatu di Jakarta.
Selain itu, dengan mengikuti bursa kerja tersebut, satu pencari kerja hanya
mengeluarkan uang Rp 15.000 untuk melamar di 40 perusahaan sekaligus.
Tingginya animo pencari kerja untuk mengunjungi pameran itu juga tidak tertutup
kemungkinan karena terus meningkatnya jumlah perusahaan yang akan tutup.
Diperkirakan, tahun ini minimal ada 10 persen dari pekerja di sektor produk
tekstil dan sepatu mengalami pemutusan hubungan kerja karena perusahaan tutup.
Saat ini saja, hampir setiap hari ada buruh dari berbagai perusahaan dan pabrik
garmen atau sepatu menggelar unjuk rasa di Kantor Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi untuk mengadukan nasib mereka yang diberhentikan secara sepihak
oleh perusahaan tanpa diberi pesangon.
Padahal, saat ini jumlah penganggur sudah mencapai 40 juta orang, 9,1 juta orang
di antaranya adalah penganggur terbuka yang sama sekali tidak memiliki pekerjaan
dan usaha mandiri.
Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 4 persen, daya serap angkatan kerja cuma 1,2
juta orang. Padahal, angkatan kerja baru setiap tahun rata-rata 2,5 juta orang.
Sementara Depnakertrans tak memiliki data yang akurat mengenai sektor yang masih
terbuka bagi pekerja, dengan alasan sangat sedikit yang melaporkan kebutuhan
perusahaan ke instansi itu.
Sehari sebelumnya, pada satu Sidang Pleno Kongres XV Ikatan Sarjana Ekonomi
Indonesia, Direktur Ketenagakerjaan dan Analisis Ekonomi Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Widianto mengemukakan, tahun ini jumlah
warga yang tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan mencapai 10,13
juta jiwa. Jumlah itu akan meningkat menjadi 11,19 juta jiwa pada tahun 2005.
Menurut Bambang, tingginya angka pengangguran dan kecenderungannya untuk terus
meningkat menjadi salah satu titik kritis Pemilu 2004.
Ditanya pendapatnya mengenai hal ini, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat Jusuf Kalla menuturkan, kemungkinan statistik dan asumsi yang digunakan
Bappenas salah dan masih memakai data lama. Dia menambahkan, tiap kenaikan satu
persen pertumbuhan ekonomi akan menyediakan lapangan kerja bagi 400 juta hingga
500 juta jiwa. (eta/b16/was/edn/idr/ dmu/boy/fey/mye/as)
|