untitled
HOME
ARTIKEL:
Alternatif Mencari Lowongan Kerja
Memburu Lowongan Kerja
Fokus Wawancara Penerimaan Pegawai
Akses lowongan kerja TI dimana dan
kapan pun
Indonesia Masih Kekurangan 25.000
Tenaga Kerja TI
Bursa Lowongan Kerja Diserbu Pelamar
Serbuan Pencari Kerja di Indonesia
Bursa Kerja dan Pengangguran
Kualitas Pencari Kerja Masih Diragukan
Ketika Bursa Lowongan Kerja ke Daerah
Ribuan Pencari Kerja Berebut Lowongan
Kerja
30.000 Pekerja Terdidik Menganggur
Tergolong Tinggi, Pengangguran di
Surabaya
Antara Kualitas Pencari Kerja dan
Pasar Sering Tidak Klop
Sebanyak 11.020 Sarjana di Palembang
Menganggur
Pengangguran Tambah 1 Juta
Maksimalkan Fungsi Depnakertrans
Bersama Arus Balik Lebaran, Batam
Diserbu Pekerja Migran
Ramai-ramai Kuliah, Ramai-ramai Cari
Kerja
|
|
Kualitas Pencari Kerja Masih Diragukan
SUDAH menjadi fenomena di negeri ini, setiap
digelar seleksi masuk calon pegawai negeri sipil, pencari kerja dipastikan
berbondong-bondong mendaftarkan diri. Seperti yang digelar pada Rabu (24/11),
sebanyak 4,5 juta pencari kerja ikut seleksi memperebutkan sekitar 204.000
lowongan di berbagai instansi pemerintah. Artinya, dari setiap 22 peserta, hanya
satu orang yang diterima.
Sebenarnya bukan hanya menjadi pegawai negeri sipil (PNS) yang diserbu pencari
kerja, tetapi juga bursa kerja yang digelar perusahaan di beberapa kota. Bursa
kerja biasanya tidak hanya membuka lowongan di dalam negeri, tetapi juga mengisi
peluang kerja di luar negeri. Membeludaknya pencari kerja pada setiap kegiatan
berkaitan dengan peluang kerja tidak bisa dimungkiri. Sebab, saat ini tercatat
ada 40 juta penganggur dan 10 juta jiwa di antaranya berstatus penganggur
terbuka. Artinya, sama sekali tidak memiliki pekerjaan atau usaha mandiri.
Angka pengangguran itu pun terus menggunung karena, menurut perkiraan, rata-rata
ada 2,5 juta orang setiap tahun masuk ke pasar kerja. Berdasarkan data Badan
Pusat Statistik (BPS), dari angkatan kerja tersebut, hanya 1,5 juta orang yang
mendapat pekerjaan.
Sebenarnya lowongan kerja tersedia setiap saat. Ini tercermin dari hampir setiap
hari media cetak terbitan lokal memuat sedikitnya puluhan iklan lowongan kerja.
Pencari kerja pun rajin memanfaatkan iklan tersebut untuk mendapatkan pekerjaan
yang sesuai dengan bidangnya. "Sudah ada 30 kali saya mengirim lamaran kerja ke
berbagai perusahaan yang memasang iklan di surat kabar, tetapi tetap saja
keinginan bisa bekerja kandas di tengah jalan. Beberapa kali saya sempat ikut
seleksi, setelah itu tidak ada panggilan lagi," kata Julaedi (35), sarjana
pertanian lulusan sebuah universitas negeri di Indonesia bagian timur itu.
Pengamalan serupa mungkin dialami pencari kerja pada umumnya sehingga mengirim
lamaran kerja melalui surat- menyurat tidak lagi menjadi pilihan. Pencari kerja
cenderung menunggu penyelenggaraan bursa kerja di berbagai kota dengan alasan
bisa langsung mengetahui perusahaan yang mencari karyawan. "Saya sudah kapok
mengirim lamaran kerja melalui kantor pos karena tidak pernah ada panggilan,"
kata Melda (28), sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, yang
sudah dua tahun menganggur.
Menurut Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri Depnakertrans
Kirnadi, dari hasil beberapa kali kegiatan bursa kerja, pencari kerja umumnya
tak bisa memenuhi kualifikasi untuk mengisi lowongan. Jadi, dari setiap 10
pencari kerja yang memperebutkan tiga lowongan, hanya dua lowongan yang terisi.
Artinya, kualitas dan keterampilan pencari kerja masih relatif rendah. Tak
jarang beberapa perusahaan sama sekali tidak mendapat calon karyawan baru karena
semua pelamar tidak memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan. Ada perusahaan
otomotif di luar negeri butuh 250 pegawai dan menjaring lewat bursa kerja,
ternyata seorang calon pun tak lolos.
Jadi, bukan lowongan yang nihil, tetapi perusahaan memang lebih selektif
menjaring calon karyawan. Penyedia kerja bahkan cenderung menerima yang
berpengalaman di bidangnya. Kalau sudah begini, angka pengangguran makin sulit
ditekan. (ETA)
|