untitled
HOME
ARTIKEL:
Alternatif Mencari Lowongan Kerja
Memburu Lowongan Kerja
Fokus Wawancara Penerimaan Pegawai
Akses lowongan kerja TI dimana dan
kapan pun
Indonesia Masih Kekurangan 25.000
Tenaga Kerja TI
Bursa Lowongan Kerja Diserbu Pelamar
Serbuan Pencari Kerja di Indonesia
Bursa Kerja dan Pengangguran
Kualitas Pencari Kerja Masih Diragukan
Ketika Bursa Lowongan Kerja ke Daerah
Ribuan Pencari Kerja Berebut Lowongan
Kerja
30.000 Pekerja Terdidik Menganggur
Tergolong Tinggi, Pengangguran di
Surabaya
Antara Kualitas Pencari Kerja dan
Pasar Sering Tidak Klop
Sebanyak 11.020 Sarjana di Palembang
Menganggur
Pengangguran Tambah 1 Juta
Maksimalkan Fungsi Depnakertrans
Bersama Arus Balik Lebaran, Batam
Diserbu Pekerja Migran
Ramai-ramai Kuliah, Ramai-ramai Cari
Kerja
|
|
Antara
Kualitas Pencari Kerja dan Pasar Sering Tidak Klop
AWAL tahun 2004 ini sudah berlangsung dua
kegiatan pameran bursa kerja di Jakarta. Penyelenggara pameran bursa kerja itu
mempersiapkan sebanyak 3.500 lowongan kerja. Perusahaan sebagai penyedia kerja
yang terlibat dalam bursa kerja tersebut bukan perusahaan kecil, tetapi grup
perusahaan multinasional yang merasa kesulitan mencari pekerja baru sesuai
dengan standar yang mereka butuhkan.
PARA pencari kerja untuk bisa masuk ke arena pameran tidak cukup hanya membawa
surat lamaran, tetapi harus merogoh kantong Rp 20.000 untuk tiket masuk ke
pameran bursa tenaga kerja tersebut. "Bagi saya, bayar tidak masalah, namanya
butuh, ya pastilah tidak gratis," kata Iwan, lulusan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara (USU), Medan, yang tengah berburu pekerjaan tersebut.
Iwan yang sarjana hukum lulusan tahun 2000 itu sudah dua kali berburu di bursa
kerja di Jakarta. "Kini tinggal menunggu panggilan saja. Kalau tidak dipanggil
juga, ya menganggur dulu saja, meski tidak enak tinggal dengan saudara di
Jakarta," katanya, sambil menarik napas panjang.
Iwan tidak sendirian, tetapiada sekitar 40 juta penganggur di negeri ini yang
9,1 juta orang di antaranya berstatus penganggur terbuka. Artinya, kelompok ini
sama sekali tidak memiliki pekerjaan sehingga bergantung kepada orang tua,
saudara, atau orang lain.
Jadi, tidak heran kalau animo calon pelamar di bursa kerja yang digelar di
Jakarta dan beberapa kali di Surabaya, serta Bandung selalu kebanjiran
pengunjung. Bahkan, pemandangan jejalan calon pencari kerja di depan loket
pameran bursa kerja sejak subuh bukan hal yang baru atau aneh. Mereka yang antre
pun tak hanya menjadi monopoli para pemburu kerja yang berasal dari Jakarta,
tetapi Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Semarang.
Sebagian di antara mereka yang sudah mengantre sejak pukul 05.00 tampak lelah,
setelah melakukan perjalanan panjang dari daerahnya sehingga tidak jarang jika
di depan loket tiba- tiba muncul suasana emosional dari kerumunan para
pengunjung yang kelelahan menunggu jam buka pameran.
SUASANA di atas cuma memberikan gambaran sepintas bagaimana kerisauan yang
tengah menghinggapi pencari kerja. Mennakertrans Jacob Nuwa Wea pun pernah
memiliki ide untuk menyediakan kawasan khusus untuk pameran kerja. "Bertujuan
bisa menampung banyak perusahaan sekaligus pencari kerja dalam waktu bersamaan.
Pengusaha akan disediakan lokasi pameran dan diupayakan para pelamar tidak perlu
bayar tanda masuk, seperti yang diterapkan penyelenggara pameran dan bursa kerja
selama ini," kata Nuwa Wea.
Alasannya, pameran bursa kerja bisa merupakan wadah untuk mempertemukan pengguna
tenaga kerja, yakni perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dan para pencari
kerja secara lebih efektif dan efisien.
Selama ini perusahaan sering mengeluh karena kesulitan mencari sumber daya
manusia (SDM) yang berkualitas, sedangkan pencari kerja menilai kesulitan
menembus birokrasi di perusahaan. Apalagi, banyak perusahaan tidak mengumumkan
secara terbuka, baik melalui koran maupun majalah, mengenai kebutuhan SDM di
perusahaan tersebut sehingga perlu ada tempat pameran yang luas dan tidak
mengganggu aktivitas masyarakat lain.
Lepas dari ide tersebut, kata Nuwa Wea, pemerintah akan terus berusaha
menciptakan lowongan kerja, meski masih terhambat rendahnya kualitas SDM
Indonesia sehingga belum bisa memenuhi tuntutan kebutuhan perusahaan. Apalagi,
sekarang sekitar 59,1 persen pendidikan tenaga kerja adalah sekolah dasar (SD)
dan sekitar 80 persen kesempatan kerja tersedia pedesaan.
"Sangat dibutuhkan dukungan dari bidang pendidikan untuk memperbaiki kualitas
tenaga kerja," ujar Nuwa Wea.
Kenapa begitu, menurut Nuwa Wea, karena setiap tahun diperkirakan ada sekitar
2,5 juta angkatan kerja baru. Bahkan, Bappenas memprediksi untuk tahun 2004 akan
ada sedikitnya 10,8 juta pengangguran terbuka, yang sama sekali tidak memiliki
pekerjaan dan usaha.
"Angka pengangguran akan sulit dikurangi karena kesempatan kerja memang makin
sempit," katanya
Namun, yang harus disadari adalah sulitnya pelamar memperoleh pekerjaan karena
informasi rendahnya kualitas SDM. Artinya, mutu SDM yang ikut melamar pekerjaan
tidak sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.
Oleh karena itu, kegiatan bursa kerja justru diharapkan sebagai salah satu
pendorong bagi pencari kerja untuk lebih meningkatkan kualitas, terutama
keterampilan di bidangnya. Paling tidak melalui pameran bursa kerja tersebut
diharapkan dapat memicu angkatan kerja Indonesia untuk berbenah diri
meningkatkan kualitas, seperti yang diinginkan perusahaan peserta bursa kerja.
Dengan melihat langsung pameran tersebut, maka calon pekerja bisa mengukur
sejauh mana dirinya bisa mengisi lowongan itu.
Namun, yang jelas harus disadari bahwa rendahnya kualitas tenaga kerja Indonesia
tidak terlepas dari belum adanya standar kompetensi tenaga kerja profesional
untuk berbagai bidang pekerjaan. Indonesia belum pernah mengembangkan standar
kompetensi tenaga kerja profesional yang seharusnya dimiliki oleh masing-masing
bidang pekerjaan, dan kalau pun ada kontribusinya sangat kecil dalam penyiapan
tenaga kerja profesional.
Data tahun 2002 menunjukkan, jumlah penduduk Indonesia sebesar 210 juta orang
dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 100,78 juta orang. Jumlah angkatan kerja
itu sebagian besar masih didominasi kelompok yang berpendidikan rendah, yaitu SD
ke bawah 59,06 persen, SLTP 17,49 persen, SLTA 19,33 persen, diploma I (D I), D
II, dan D III sebanyak 2,21 persen, dan perguruan tinggi sekitar 2,69 persen.
Sementara di Thailand, Malaysia, dan Filipina angkatan kerja yang berpendidikan
perguruan tinggi sudah di atas 10 persen. Bahkan, dalam dunia kerja, terutama di
negara-negara maju, tingkat kompetensi pekerja dengan jelas ditunjukkan oleh
sertifikat keterampilan dan lisensi kerja yang dimiliki. Namun, ketentuan itu
tidak berlaku bagi tenaga kerja Indonesia karena memang belum memiliki standar
kompetensi.
Oleh karena itu, segera mereformasi sistem pendidikan dan pelatihan di
Indonesia, yang salah satunya dapat dilakukan melalui penyesuaian kurikulum
perguruan tinggi sehingga lulusan yang dihasilkan siap memasuki dunia kerja.
Sebab, keterlibatan dalam arus globalisasi memaksa Indonesia harus siap masuk ke
dalam persaingan bebas, di mana sudah tidak mengenal hambatan termasuk
penghapusan berbagai subsidi.
Konsekuensinya, Indonesia harus siap bersaing dengan negara-negara lain, baik
dalam bidang produksi, perdagangan dan jasa, dan bidang ketenagakerjaan yang
makin terbuka, yang tentunya membawa konsekuensi positif maupun negatif,
khususnya membuka pasar kerja bagi tenaga asing.
Saat ini sudah 19 negara yang minta Indonesia membuka pasar kerja bagi berbagai
kelompok profesi. Jika kualitas SDM Indonesia cuma pas-pasan, tak hanya kalah
bersaing, tetapi juga tak mampu mengisi pasar yang ada. Sebab, antara permintaan
dan tenaga kerja yang tersedia tidak klop. Jadi, peluangnya besar, tetapi tak
mampu diisi karena memang tidak memiliki kompetensi untuk mengisinya. (AGNES
SWETTA PANDIA)
|