untitled
HOME
ARTIKEL:
Alternatif Mencari Lowongan Kerja
Memburu Lowongan Kerja
Fokus Wawancara Penerimaan Pegawai
Akses lowongan kerja TI dimana dan
kapan pun
Indonesia Masih Kekurangan 25.000
Tenaga Kerja TI
Bursa Lowongan Kerja Diserbu Pelamar
Serbuan Pencari Kerja di Indonesia
Bursa Kerja dan Pengangguran
Kualitas Pencari Kerja Masih Diragukan
Ketika Bursa Lowongan Kerja ke Daerah
Ribuan Pencari Kerja Berebut Lowongan
Kerja
30.000 Pekerja Terdidik Menganggur
Tergolong Tinggi, Pengangguran di
Surabaya
Antara Kualitas Pencari Kerja dan
Pasar Sering Tidak Klop
Sebanyak 11.020 Sarjana di Palembang
Menganggur
Pengangguran Tambah 1 Juta
Maksimalkan Fungsi Depnakertrans
Bersama Arus Balik Lebaran, Batam
Diserbu Pekerja Migran
Ramai-ramai Kuliah, Ramai-ramai Cari
Kerja
|
|
Memburu Lowongan Kerja
KALAU ditanya, pameran apakah yang paling
banyak menyedot pengunjung, hingga mereka rela berdesak-desakan meski harus
ditarik tiket masuk? Boleh jadi, jawabannya adalah pameran bursa kerja. Seperti
yang terjadi saat pameran di Jakarta, Bandung, Surabaya, atau di tempat lain,
tidak sedikit yang jatuh pingsan akibat jubelan di antara mereka.
Jika masih tidak percaya, saksikan atau amati saja Pameran Bursa Kerja Nasional
(Job Fair) yang diadakan Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Dalam
Negeri (PPTKDN) Depnakertrans pada 27-28 Mei mendatang, bertempat di Hall C
Arena Pekan Raya Jakarta Kemayoran.
Menurut rencana, pameran ini akan menghadirkan 100 perusahaan dengan jumlah
minimal 1.000 lowongan. Para pencari kerja itu bisa melakukan registrasi di
Pusat Bursa Kerja On Line Depnakertrans dengan tidak dipungut biaya alias
gratis. Bisa diperkirakan, pameran itu pasti akan banyak dikunjungi para pencari
kerja.
Para pemburu kerja dengan berbagai latar belakang pendidikan itu terpaksa
berebut lowongan kerja yang jumlahnya minim. Situasi ini juga menggambarkan
bahwa pasar saat ini dipenuhi tenaga kerja yang tidak memiliki kualifikasi
khusus sehingga lowongan apapun diserbu.
”Ini merupakan fenomena lama yang muncul di permukaan. Tekanan tenaga kerja yang
luar biasa hingga peluang dan harapan sekecil apapun harus diambil mereka. Ini
problem hubungan antara pendidikan dan dunia kerja,” kata pengamat sosial dari
Universitas Airlangga, Hotman Siahaan.
Pameran bursa kerja memang menjadi satu wahana untuk mempertemukan pengguna
tenaga kerja, yakni perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja serta para pencari
kerja secara lebih efektif dan efisien. Hingga kini banyak perusahaan sering
mengeluh tentang sulitnya mencari SDM yang berkualitas. Sedangkan, pencari kerja
sendiri menilai kesulitan menembus birokrasi di perusahaan.
Menurut para pengamat ketenagakerjaan, sejauh ini yang menjadi kendala adalah
kualitas SDM Indonesia masih belum sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Saat ini
sebanyak 59,1 persen pendidikan tenaga kerja di Indonesia adalah sekolah dasar,
dan sekira 80 persen kesempatan kerja ada di kawasan pedesaan. Dengan demikian,
diperlukan dukungan dari bidang pendidikan untuk memperbaiki kualitas tenaga
kerja.
Sebenarnya, bentuk informasi kerja itu sudah makin berkembang pesat dengan
adanya berbagai situs kerja yang menyediakan informasi lowongan kerja secara
lengkap dan terinci. Namun, di sisi lain informasi kerja secara langsung
ternyata masih juga diperlukan.
Terbukti pada hampir setiap pameran bursa kerja, informasi kerja secara langsung
itu menjadi ajang pertemuan fisik serta interaksi antara perusahaan penyedia
pekerjaan dengan para pencari kerja. Kalau begitu fenomenanya, tidak usah heran
pertemuan fisik itu berkembang secara tidak seimbang menyusul membludaknya
pencari kerja dibanding jumlah lowongan. Akibatnya, berjejal, berdesakan, dan
ada yang pingsan.
**
Direktur Center for Labour and Development Studies, Bomer Pasaribu malah
menyatakan, pada 2004 ini akan menjadi puncak jumlah penganggur. Jika dihitung
sejak 1999, jumlah penganggur terbuka di negara kita meningkat hingga 200 persen
dari empat juta orang menjadi 10,6 juta orang.
Jumlah penganggur 10,6 juta tersebut adalah masyarakat yang 100 persen tidak
memiliki lapangan kerja. Belum termasuk sekira 40 juta lebih masyarakat dalam
kondisi under employment, yakni mereka yang bekerja tetapi kurang dari 30 jam
dalam seminggu serta pengangguran terselubung (disguised unemployment) yang
banyak ditemui di desa-desa yang masyarakatnya bekerja di sektor informal.
Sementara, Bappenas memprediksi pada 2004 ini jumlah penganggur akan mencapai
10,8 juta orang dan setengah penganggur 31,9 juta orang.
Lonjakan pengangguran yang terjadi tahun ini, katanya, selain berasal dari
potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di industri tekstil dan
produk tekstil (TPT) serta kehutanan sebagaimana dinyatakan Kamar Dagang dan
Industri (Kadin) Indonesia, juga berasal dari pertambahan jumlah anak putus
sekolah yang diperkirakan mencapai 1,8 juta orang. Alasannya, mereka tidak
mempunyai biaya, dan langsung memasuki dunia kerja namun tidak tertampung.
Sebanyak 22 persen dari mereka adalah usia kerja produktif.
Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri memperkirakan, dengan asumsi pertumbuhan
ekonomi sebesar 4,9 persen tahun ini, maka tambahan lapangan kerja yang bisa
disediakan hanya sebesar 1,4 juta. Namun, hal tersebut masih belum mampu
mengimbangi tingginya pertumbuhan angkatan kerja baru yang diperkirakan mencapai
2,1 juta. Total penganggur terbuka tahun ini diperkirakan mencapai 10,83 juta.
Bomer menilai, kondisi pengangguran terparah sejak terjadi krisis ekonomi tahun
1997 tersebut terjadi karena pemerintah dalam kebijakan ekonomi terlalu terpaku
pada kebijakan ekonomi makro, dengan mengabaikan perbaikan kebijakan di sektor
riil yang lebih menyentuh pada dunia usaha.
”Pemerintah hanya terfokus mengelola stabilitas ekonomi makro saja. Target ini
pada tahun 2003 sudah tercapai, seperti suku bunga yang terus turun, inflasi
yang rendah, dan kurs rupiah yang menguat. Tapi, pemerintah lupa, itu terjadi
karena lebih banyak faktor eksternal, seperti turunnya suku bunga di Jepang yang
kini sudah mencapai nol persen,” katanya.
Tak heran jika sejak lima tahun krisis berjalan, jumlah petani gurem yang selama
ini menjadi kantong kemiskinan dan pengangguran di Indonesia, jumlahnya melonjak
tajam dari 52,7 persen menjadi 58,6 persen.
Pemerintah dalam hal ini Depnakertrans mengakui menerima beban tugas yang sangat
berat sebagai akibat krisis multi dimensi yang berkepanjangan akibat
kebijaksanaan masa lalu. Menurut Menakertrans Jacob Nuwa Wea, salah satu
permasalahan yang harus segera diselesaikan adalah isu pengangguran sebagai isu
sentral yang harus ditanggulangi, mengingat angka pengangguran yang sangat
tinggi.
Dia juga mengakui, permasalahan ketenagakerjaan merupakan masalah yang sangat
kompleks, yang saling berkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya.
Masalah utamanya adalah masalah ekonomi makro, namun masalah keamanan dan
masalah lain seperti politik dan sosial juga saling memengaruhi.
”Oleh karena itu, masalah pengangguran tidak dapat diselesaikan hanya oleh
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi saja, perlu suatu komitmen dari seluruh
lapisan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dunia pendidikan, dunia politik,
dan sektor-sektor lainya,” ujarnya.
Permasalahan pengangguran, lanjut Jacob, harus dipecahkan secara terintegrasi
dan terkoordinasi, yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menurunkan jumlah
angka pengangguran sampai pada jumlah yang sekecil-kecilnya, dan pada akhirnya
dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
Namun demikian, sebenarnya sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan Depnakertrans
untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, meskipun dengan anggaran yang
terbatas sebagai akibat anggaran yang dimiliki pemerintah juga terbatas.
**
Antisipasi dan penanganan makin membesarnya jumlah penganggur sungguh suatu
kebutuhan yang mendesak. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya harus
menjadi penganggur baru, menambah penganggur yang sudah ada. Jangankan lulusan
SLTA, sarjana yang menganggur saja terus bertambah. Itu memang anekdot tapi juga
suatu kenyataan.
Menurut pengamat ekonomi dari Indef, Dradjat H. Wibowo, proses pemilu yang
sekarang kita jalani merupakan momentum yang sangat baik guna memecahkan
kebuntuan di bidang ketenagakerjaan. Dalam hal ini, peran pemerintah tetap
menjadi fasilitator guna membukakan lowongan kerja sebanyak-banyaknya.
Jika tidak, Dradjat memperkirakan pada 2005 akan terjadi ledakan pengangguran
sekira 13 juta hingga 15 juta orang, dengan asumsi orientasi pemerintah tetap
tidak berubah. Karena itu, pemerintahan baru nanti diharapkan mengubah kebijakan
ekonomi yang pro stabilitas menjadi pro pertumbuhan.
Menurut dia, pemerintahan baru nanti dituntut untuk berani mengubah pola
kebijakan ekonominya yakni pro pertumbuhan dan ekspansif. ”Jika hal ini tidak
dilakukan maka akan terjadi ledakan pengangguran 13 juta hingga 15 juta orang
pada tahun depan.”
Ekonom Prof. Sadli menilai, satu hingga dua tahun ke depan, dunia usaha masih
akan sulit menemukan solusi jangka pendek dan menengah yang akan dihasilkan
pemerintahan kabinet sekarang.
Sedangkan Bomer Pasaribu lebih optimis dengan catatan, pemerintah termasuk Bank
Indonesia (BI) segera mengubah strategi kebijakan pembangunannya menjadi
kebijakan yang bersifat full employment seperti yang selama ini berhasil
diterapkan sejumlah negara maju, seperti Australia dan negara Eropa Barat.
Kalau begitu, dalam momentum pemilu untuk memilih presiden baru, maka kita harus
mencermati siapa yang paling tepat dipilih. Kalau ada figur yang dengan visi,
misi, program yang konkret, dialah yang kita pilih. Dia dipilih karena bisa
menjamin mampu menciptakan lowongan kerja dan menekan jumlah penganggur. (satrio
widianto/”PR”)***
|